Sabtu, 22 Februari 2020

Syaikh Nawawi dan sejarah Penerusan


As-Syaikh Nawawi Ashodiq
Mbah Windusari (Syaikh Nawawi Ashodiq) adalah seorang Ulama dan penyebar Agama Islam  asli dari jepara. Beliau Putra ke tiga dari Syaikh Umar Sa’id (Sunan Muria) dr salahsatu Istri Sunan Muria, dan beliau mempunyai dua orang saudara dari satu Ibu yaitu Raden Pabelan dan Kyai Ageng Djalaludin. 
Pada awalnya  Mbah Windu Sari ini disebut Kyai Tunggul namun berganti nama menjadi Syaikh Nawawi Ashodiq karena pernah mondok atau berguru agama pada Sunan Kudus (Sayyid Dja’far Shodiq) dan oleh Sayyid Dja’far Shodiq nama Tunggul diganti menjadi  Nawawi Ashodiq.
Dikisahkan Syaikh Nawawi pada saat berjuang di wilayah wadaslintang menyukai gadis cantik yaitu Putri Gemenggeng yang sekarang menjadi Desa Kali Gowong. Dia datang ke Gemenggeng dan berniat penuh optimis untuk mempersunting putri tersebut, namun Sang Putri ini tidak bersedia menikah dengan Kyai Tunggul, mengetahui cintanya ditolak kemudian Beliau pergi ke sebuah gunung dan membuka Dusun yang kemudian di namai Dusun Windusari, dari itu lah Beliau disebut oleh warga sekitar dengan sebutan Mbah Windusari.
Karena masih merasa sakit hati akibat cintanya ditolak Beliau  bersumpah di puncak gunung Windusari “Bahwa orang windusari tidak akan pernah berjodoh dengan orang Gemenggeng atau Kaligowong” akhirnya Mbah Windusari sampai meninggal tidak menikah, dan sumpahnya tersebut terbukti sampai sekarang warga Windusari tidak ada yang menikah dengan orang Kaligowong, setelah dibukanya dusun tersebut Beliau  berniat membuka sebuah pondok pesantren, namun ntah karena apa hal tidak jadi terlaksana. 
Pada saat tinggal didusun Windusari, Beliau mempunyai suatu hobi yaitu bermain kitiran (baling-baling), dan membuatnya dari kayu walang dengan ukuran yang sangat besar setelah jadi, mbah mengangkat kitiran tersebut ke puncak gunung untuk dimainkan, pada saat kitiran berputar suaranya terdengar sangat jelas seperti suara pesawat terbang, namun sampai sekarang bekas kitiran tersebut belum bisa diketemukan, dan pada saat Beliau mengangkat kitiran tersebut ke pucak gunung, sabit (kudhi) nya terlempar ke gunung merayang yang dipercaya gunung tersebut adalah patahan dari gunung Windusari, kemudian iket dikepala Beliau pun ikut terlempar ke Wonosobo dan ditempat terjatuhnya iket simbah ini oleh masyarakat sekitar dibuat makam namun anehnya jika ada orang berziarah atau nyekar di makam tersebut bila turun hujan orang tersebut tidak kehujanan masih tetap dalam keadaan kering, padahal makam tersebut tidak diberi rumah atau atap, itu menandakan bahwa iket simbah yang selalu melindungi simbah dari panas maupun hujan.
Setelah iket dan sabit (kudhi) terlempar simbah merasa tidak punya apa-apa kemudian turun dari puncak menyuruh anak cucunya untuk meluaskan desa, kemudian mbah ambles bumi di puncak gunung windusari tersebut oleh masyarakat sekitar kepergian mbah bukan karena meninggal dunia tetapi mngamblaskan diri kedalam bumi dan menandai makamnya dengan dua batu berbentuk segitiga yang ditancapkan di tanah, dan di depan makamnya tersebut ada pohon pandan bercabang tiga yang konon dipercaya pohon tersebut dulu keluar air yang digunakan untuk wudlu oleh mbah windusari dan pohon tersebut tidak bisa dipotong sembarangan.
Menurut juru kunci makam bahwa alam sekitar makam adalah rumah simbah yang sangat megah dan terdapat sebuah sumur dengan timba dan gayung emas yang dipercaya sebagai sumur untuk mandi mbah windu pada masa hidupnya, sumur tersebut bernama sumur sinangka dan sumur tersebut oleh Mbah Windu digunakan sebagai irigasi sawah melalui talang emas, pada waktu itu sawah yang diairi oleh simbah yaitu sawah yang berada di desa sumbersari dan desa kaligowong di masa itu dan dipercayai bila ada orang yang bisa mandi disumur Mbah Windusari orang tersebut akan kebal dari benda-benda tajam, selain itu disebelah utara makam juga terdapat rumput-rumput yang sangat hijau dan tinggi yang dipercaya sebagai pakan sapi-sapi simbah Windusari karena dulu mbah Windusari mempunyai sapi yang sangat besar dalam jumlah yang sangat banyak, berwarna hitam dan putih. Si juru kunci tersebut mengetahui semua itu, diberi tahu oleh mbah Windusari melalui mimpi atau seolah-olah mendatangi ke rumah juru kunci, dan bila dlihat secara kasat mata sekitar makam hanya kebun pinus biasa dan ada aliran sungai kecil.
Di gunung windusari ini terdapat gambar sapi berwarna putih diatas batu hitam yang disebut dengan sapi gemarang dan setiap malam jum’at kliwon dan selasa kliwon sapi tersebut akan berbunyi dan jika ada sapi warga yang menjawab bunyi sapi gemarang, sapi tersebut akan gila. Tapi sekarang gambar sapi gemarang itu sudah tidak bunyi lagi karena terkena petir, tapi dipercayai bahwa sapi itu masih hidup hanya kaget terkena petir, ini menjadi bukti bahwa dulu mbah windusari memang memelihara sapi dan konon sebelah utara makam itu adalah rumput-rumput yang hijau tinggi yang mungkin sebagai pakan sapi-sapinya. 
Selain itu bukti lainnya adalah sumur suci atau sumur keramat diatas batu yang berada sekitar 700 m dari makam mbah Windusari yang dipercayai bocoran dari sumur sinangka milik mbah windusari, sumur keramat tersebut airnya dianggap suci, sangat jernih dan dapat langsung diminum.
Sampai sekarang makam mbah Windusari ( Syaikh Nawawi Ashodiq) banyak didatangi oleh peziarah untuk mendo’akannya, namun anehnya jika pada malam hari datang kesana untuk mendo’akan dengan baca surat yasin meskipun tidak ada penerangan semua akan terasa terang dan bisa membaca surat yasin tersebut, terkadang mbah windusari ini juga menampakkan dirinya pada peziarah yang datang. Namun ada juga yang datang ke makam untuk melakukan ritual-ritual secara kejawen, itu pun kalo permintaannya di kabulkan akan didatangi sosok ghaib biasanya berwujud binatang buas.
Nilai yang terkandung dalam folklor tersebut adalah nilai sosial karena folklor itu sebagai alat untuk menyatukan orang-orang dari berbagai kalangan yang datang untuk ikut menghormati atau mendo’akan misalnya pada saat khaulnya mbah Windusari, dan dalam folklor tersebut juga mengajarkan tentang ajaran sosial misalnya saat sumur sinangka digunakan  oleh mbah windusari untuk mengairi sawah-sawah di desa sekitarnya. Folklor ini juga mengandung nilai religi karena banyak orang datang untuk mendo’akan dan setiap khaulnya diadakan pengajian dan do’a-do’a bersama.
Fungsinya yaitu sebagai alat pemersatu antara kebudayaan atau tradisi orang jawa yang biasanya datang ke makam untuk napak tilas atau mundhi meminta sesuatu hal bagi dirinya dengan orang islam yang datang untuk berziarah mendo’akan mbah Windusari (Syaikh Nawawi Ashodiq).
Mbah Windusari ini aslinya adalah seorang Ulama dan pejuang Islam yang membuka dusun di pegunungan dan diberi nama dusun Windusari yang berada di desa Erorejo kecamatan Wadaslintang kabupaten Wonosobo, sehingga masyarakat sekitar menyebutnya mbah Windusari dan sekarang menjadikan makamnya tersebut sebagai punden.
As-Syaikh Rohmatulloh
As-Syaikh Rohmatulloh pendiri Desa Panerusan kec Wadaslintang adalah seorang tokoh Ulama yang unggul dlm Ilmu serta kegigihannya dalam berjuang .dan oleh masyarakat sekitar disebut dengan Mbah Penerusan. 
Beliau bernama Syaikh Rohmatulloh bin Muhammad bin Nur Rohmat (Sunan Sendang Duwur). Beliau murid Sunan Drajad. 
Dan pada masa Demak Beliau di Perintahkan oleh Sultan Trenggono untuk menyebarkan pengetahuan Agama Islam bersama Raden Burhanuddin (Mbah Lerik) ke wilayah Panjer. Dan diperintahkan untuk Berguru pada Syaikh Muhammad 'Ishom Alhasany di Somalangu.dan meminta petunjuk pada Syaikh untuk wilayah perjuangan.
Setelah menimba ilmu di Pesantren Somalangu Beliau Berdua dititahkan untuk melakukan perjalanan ke arah utara, sambil menyebarkan pengetahuan Agama serta mencari tempat untuk bermukim. Hingga suatu ketika sampailah di sebuah hutan yang lebat serta di pegunungan. Rombongan pun berhenti untuk istirahat dan dalam beberapa hari rombongan menetap di hutan tersebut.
Pada suatu malam Syaikh Rohmatulloh mendapatkan firasat agar menetap di tempat tersebut untuk berdakwah dan membuka perkampungan. 
Keesokan harinya hal tersebut disampaikan pada semua Rombongan termasuk Raden Burhanuddin. Dan setelah ada kesepakatan perhitungan hari maka dimulai lah pembabatan hutan untuk dijadikan lahan pemukiman dan lahan pertanian. Lambat laun tempat baru tersebut semakin maju. Kepemimpinan Syaikh Rohmatulloh dan Raden Burhanuddin di akui oleh masyarakat sebagai pemimpin masyarakat dan pembimbing rohani.
Pada suatu ketika datanglah seorang yang sangat berwibawa dan di segani.. kedua tokoh pun menyambut tamu yang datang dengan sangat gembira 
Beliau yang datang tiada lain adalah Kanjeng Sunan Kalijogo. Kakek dari Raden Burhanuddin.
Setelah mengucapkan salam dan penyambutan Kanjeng Sunan pun segera paring Pangendikan... 
Duh thole wayah ingsun sak kloron. Midangetno djarwaningsun kanti widjang satolo-tolo.
Kedua tokoh pun menjawab "sendiko dawuh"
Jeneng Siro Rohmatulloh, wus dadi kersaning Gusti yen to Jeneng Siro dipesthi mapan ono ing papah kene, kanggo ngluhurake Asmane Gusti ugo Kanjeng Nabi sarto ngayahi jejibahaning Agomo Suci.
Lan Sliramu Burhanuddin, Jeneng Siro kudu nerusake laku golek papan panggonan kang ing papan kono ono watu kang gumantung , kanggo mukim ing dino sepuhmu. Lan ingsun paring paweling marang Siro yen keprungu kekabaran Angger Pemanahan sumedyo babad alas Mentaok. Jeneng Siro Burhanuddin kudu siogo cancut taliwondo ambiyantu marang Keluargo Selo kang bakal Babad Alas.
Kedua tokoh pun menyanggupi atas semua perintah Kanjeng Sunan Kalijogo.
Kanjeng Sunan pun meneruskan pengendikan
Lan kanti sineksen bumi langit sak isine lan ugo kanti Ridho Dalem ALLOH ginandeng ono ing papan kene iku dudu panggonan pungkasaning jejibahan. Mulo papan kene ingsun paringi aran Penerusan. Pinongko dadi tondoning jejibahaning manungso iku durung ono rampunge lan kudu tansah diterusake.
Lan Sliramu Rohmatulloh kudu biso tansah ngrembakaake kahanan warising ngelmu soko poro winasis kanggo anjejegake Agomo Suci ono ing papan kene nganti tumekaning patimu.
Lan Siro Burhanuddin age2 oncat soko Penerusan anggoleki watu kang gumantung.
Koyo mung iku kang ingsun wedjangake marang jeneng siro sak kloron.
Raden Rohmatulloh dan Raden Burhanuddin pun menyanggupi. Dan setelah uluk salam Kanjeng Sunan pun hilang dari pandangan mata para hadhirin di waktu itu.
Keesokan harinya Raden Burhanuddin beserta rombongan berpamitan pada Raden Rohmatulloh untuk mengemban tugas dari Kanjeng Sunan.
Demikian lah riwayat asal mula nama desa Penerusan yang penuh dengan makna dan filsafat kehidupan.
Semoga para sesepuh pinisepuh senantiasa di ampunkan segala dosa dan kesalahan serta di terima segala amal ibadah dan kebaikan oleh ALLOH SWT
Dan kita sebagai manusia zaman sekarang semoga bisa mengambil suritauladan pada Beliau2 para sesepuh untuk berjuang di zaman modern seperti sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar