Rabu, 17 Agustus 2016

Sejarah Singkat Ibnu Taimiyah


Siapa Ibnu Taimiyah ? Beliau bernama Taojyuddin Abui Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdis Salam bin Abdullah bin Taimiyah Al Harami Hambaili. Ketika kota yang ditempati Ibnu Taimiyah diduduki oleh tentara Tartar, ayahnya membawa lari ke Damaskus, di kota inilah ia dibesarkan. 
Dalam lingkungan baru itu mempertemukannya dengan guru-guru besar (syeikh-syeikh), sejak itu ia mulai mengenal Ilmu Hadits yang sebelumnya di dasari dengan pengetahuannya tentang Al Qur-an sekaligus hafal. Kemudian diikuti pendalaman Ilmu Musnad Hadits, Kutubus Sittah (kumpulan shahih Bukhari, shahih Muslim, Sunan Ibnu Majjah, Jami' Abu Dawud, Jami' Turmudzi, Sunan An Nasai), kitab Mu'jam At Thabrani Al Kabir dan masih banyak lagi kitab serta manuskrip-manuskrip kecil dari para imam yang dipelajarinya. Maka tidak perlu diragukan akan keilmuan Ibnu Taimiyah dalam jajaran para pemikir Islam. 
Sejak kanak-kanak ia telah menampung berbagai ilmu mempelajari Teologi Islam serta Ilmu Hukum Islam dari ayahdanya sendiri; kemudian memperdalam, meneliti dan memperdebatkannya. Ibnu Taimiyah tumbuh dalam lingkungan berbahasa Arab. Ia mempunyai pengetahuan yang luas tentang mempelajari Ilmu Tafsir Al Qur-an, Ilmu-Ilmu lain tentang Agama, Itmu Logika seria Ahli Berfatwa. Semua itu ia tempuh sebelum berusia 20 tahun.) 
Rupanya Allah telah menganugerahkan kemudahan kepadanya dengan mempersembahkan berbagai karyanya dalam bentuk buku – buku ilmiah. Ibn Taimiyah memang orang yang tekun, kuat hafalan, kuat berzikir dan mudah menangkap pemahaman terhadap permasalahan, dan ia tidak mudah lupa. Ketika berusia 21 tahun, ayahdanya mati. Dari situ memaksanya untuk lebih berdikari disertai keistimewaannya. Maka dalam waktu singkat nama Ibnu Taimiyah sudah dikenal dan dikagumi oleh kalangan intelektual Islam pada waktu itu. 
Ibnu Taimiyah memiliki semangat baja dalam menyusuri perjuangannya. Petuah – petuahnya dirangkum dalam bentuk buku – buku kemudian disebar luaskan kepada umat manusia. Ia berdakwah mengikuti jejak ulama salaf yang saleh. Ia teguh menegakkan kewajiban agama ber amar ma’ruf serta melarang bid’ah dan munkar. Karena ketajaman pandangannya menempatkan dirinya sebagai panutan bagi siapa pun yang berjiwa pelopor kebangkitan dan kemajuan. 
Ibnu Taimiyah amat terkenal dengan teori akal sehatnya, pandai memberi sorotan dalam setiap masalah dan tepat dalam setiap orientasi. Ia sering mengadakan observasi keagamaan baik dengan pertimbangan ratio atau nadriah, sehingga dapat diketahui dengan mudah hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Ia berpandangan luas, pengupasan mendetil, berhujjah kuat, kesabaran yang indah dan samudera ilmu. 
Al-Hafidz Ibnu Sayyidinas dalam kitabnya mengatakan: Ibnu Taimiyah seorang penemu garis Ilmu Pengetahuan dan Al-Qur’an, ia menguasai sunnah Rasulullah saw beserta atsar para sahabat. Jika Ibnu Taimiyah berbicara tentang tafsir Al-Qur’an, ia kuasai kandungannya secara mendalam, jika berfatwa tentang hukum fiqih maka menerobos pada permasalahan akhir yang tepat, jika ia menyinggung Hadits, memang ia ahlinya dan menguasai setiap perawi serta riwayatnya. Apabila berbicara tentang filsafat memang ia juru interpretasi filsafat yang bisa di andalkan. Ia mempunyai pandangan luas dan lebih tinggi nilainya dibanding orang - orang sebayanya. Jarang ada bandingan yang bisa diandalkan. Yang lebih mengagumkan, ia beijiwa merdeka meliputi pandangan, pendapat serta pertimbangan; tidak pernah memihak atau mementingkan pribadi atau golongan sendiri. 
Tetapi akhir hidupnya membawa nasib lain, Allah mengujinya. Di Damaskus ia ditahan pemerintah setempat mulai bulan Sya'ban tahun 726 H sampai bulan Zulqa'dah tahun 728 H. Ibnu Taimiyah menderita sakit selama 27 hari, tetapi rakyat umum tidak mengetahui sakitnya. Rakyat baru tahu setelah tersiar berita kematian beliau, y

Pengertian Wali Allah Menurut Al-Quran


Untuk mengetahui wali – wali Allah telah disinggung dalam Al-Qur’an, Surat Yunus ayat: 62 – 64. 
 Artinya: Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. ( Q.S. Yunus : 62 – 64). 
Di dalam surat Al Baqarah ayat 257 difirmankan: 
Artinya: Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al Baqarah : 257) 
Di dalam Surat Al Maidah ayat 51 – 56 dijelaskan: 
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: "Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?" Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). dan Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah[423] Itulah yang pasti menang. (Q.S. Al Maidah : 51 – 56) 
Di dalam Surat Al Kahfi ayat 44 diterangkan : 
Artinya: "Di situ perlindungan hanyalah kepunyaan Allah yang benar, dan Dia paling baik (dalam memberikan) pahala dan paling baik (dalam memberikan) pembalasan." (Q.S. Al Kahfi : 44).

Pengertian Wali Setan Menurut Al-Quran


Di dalam Surat An Nahl ayat 98 -100 dijelaskan : 
Artinya: “ apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaanNya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaanNya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya Jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” ( Q.S. An Nahl: 98 – 100). 
Di dalam surat An Nisa' ayat 119, dijelaskan : 
Artinya: "Barangsiapa menjadikan setan sebagai perlindungannya selain-dari Allah, sesungguhnya mereka mendapat kerugian yang terang. "(Q.S. An Nisa': 119). 
Lebih lanjut Allah menjelaskan dalam bagian. ayat lain sebagai pelengkap surat An Nisa' ayat 119, yakni pada surat Al Baqarah ayat 257 : 
Artinya : "Allah pelindung orang-orang yang beriman, mereka dikeluar-kannya dari kegelapan kepada cahaya yang terang, dan orang- orang yang tidak beriman itu perlindungannya setan, mereka dikeluarkannya dari cahaya yang terang kepada kegelapan, orang-orang itu isi neraka, mereka tetap di dalamnya." (Q.S. Al Bagarah : 257). 
Dalam surat Ali Imran ayat 173 - 175 dijelaskan : 
Artinya: "Manusia berkata kepada mereka, sesuntuknya orang-orang telah berkumpul untuk melawan kamu, sebab itu takutlah kepada mereka, tetapi hal itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: Cukuplah Aliah menjadi penolong kami dan pelindung yang sebaik-baiknya. Mereka kembali dengan mendapat kumia dan pemberian Allah, mereka tidak kena bahaya, dan mereka mengikut keridhaan Allah, dan Allah itu pemberi kurniayang besar! Itu hanya setan yang mempertakuti kawan-kawannya, sebab itu kamu jangan takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku kalau kafnu benar orang-orang yang beriman." (Q.S. Ali Imran : 173-175). 
Di dalam surat Al A'raf ayat 27 - 28 dijelaskan : 
Artinya : "Sesungguhnya setan itu kami jadikan pemimpin untuk orang- orang yang tidak beriman. Dan bila mereka melakukan perbuatan keji mereka mengatakan : Kami dapati bapak-bapak kami mengerjakan ini dan Allah menyuruh Icami demikian itu. Katakan bahwa Allah tidak menyuruh mengerjakan perbuatan keji, apakah kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. Al A'raf: 27-28). 
Di dalam surat Al A'raf ayat 30 dijelaskan 
Artinya: "Sesungguhnya mereka mengambil setan menjadi pemimpinnya bukan Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk." (QS. Al A 'raf: 30). Di dalam surat Al An'am ayat 121 dijelaskan :
Artinya : "Dan sesungguhnya setan menyampaikan kepada kawan-ka- wannya supaya merelai menentang kamu, dan kalau kamu mematuhi mereka, tentulah kamu menjadi orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." (Q.S. Al An'am : 121). 
Di dalam surat Maryam ayat 45 dijelaskan : 
Artinya : "Wahai ayahku! Sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan disiksa azab dari Allah yang Maha Rahman lalu engkau menjadi wali setan." (Q.S. Maryam : 45). 
Di dalam surat Al Mumtahanah ayat 1-5 dijelaskan :
Artinya : "Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambilmu- suh-Ku dan musuhmu menjadi pemimpin! Kamu tunjukkan kepada mereka kasih sayang, sedang mereka menyangkal kebenaran yang telah datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan kamu, karena kamu beriman kepada Allah, Tuhan kamu, ketika kamu berjuang dijalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku, kamu menyatakan kasih sayangmu kepada mereka dengan rahasia, sedang Aku mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu terangkan. Dan siapa di antara kamu yang mengerjakan itu, sesungguhnya dia telah sesat dari jalan yang benar. Kalau mereka dapat menangkap kamu, mereka akan memperlakukan kamu sebagai musuh, mereka akan melepaskan tangan dan lidahnya buat mendatangkan bahaya kepadamu dan mereka ingin supaya kamu kafir kembali. Kerabat dan anak-anakmu tidak berguna bagimu di hari kiamat. Dia (Tuhan) akan memutuskan perkara antara kamu, dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia bagimu suatu teladan yang baik, ketika mereka mengatakan kepada kaumnya : Kami berlepas tangan terhadap kamu dan apa yang kamu puja selain Allah, dan kami menyangkal kamu antara kami dan kamu terang ada permusuhan dan perasaan benci buat selamanya kecuali kalau kamu beriman hanya kepada Allah jua, lain halnya (tidak patut menjadi teladan) perkataan Ibrahim kepada bapaknya : Aku akan memohonkan ampun untuk engkau, meskipun aku tidak kuasa barang sedikit pun dari Allah untuk engkau. (Mereka berdo'a) : Wahai Tuhan kami! Kepada Engkau kami mempercayakan diri, kepada Engkau kami kembali dan kepada Engkau juga sesudahnya. Wahai Tuhan kami! janganlah kami Engkau jadikan ujian (sasaran penindasan) oleh orang-orang yang tidak beriman, dan ampunilah kami wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Mahakuasa dan Bijaksana. " (Q.S. Al Mumtahanah : 1-5).

Menjadi "Waliyyullah" dengan persaudaraan Islam


Sahabat Umar Ibnul Khattab ra mengatakan: Bersabda Rasulullah saw:

 إِنَّ مِنْ عِبَادِ اﷲِ أَنَاسًا ٬مَاهُمْ بِأَنَبِيَاءِ وَلاَ شُهَدَاءِ ٬ يَغْبِطُهُمُ الأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اﷲِ ٠ قَالُوا ׃ يَا رَسُولَ اﷲِ فَخَبِّرْنَا مَنْ هُمْ ؟ قَالَ ׃ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرَوْحِ اﷲِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلاَ أَمْوَالٍ يَتَعَا طَوْنَهَا فَوَ اﷲِ إِنَّ وُجُوْهَهُمُ النُّوْرُ ، وَإِنَّهُمْ لَعَلَى نُوْرٍ ، لاَيَخَافُوْنَ إِذَا خَافَ النَّاسُ ، وَلاَ يَحْزَنُوْنَ إِذَاحَزِنَ النَّاسُ ، وَقَرَأَ ׃ أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اﷲِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ٠ 
 
"Sesungguhnya Allah mempunyai segolongan hamba. Mereka bukanlah para Nabi, juga bukan orang-orang mati syahid. Namun mereka, membuat terkagum-kagum para Nabi dan orang-orang mati syahid, karena ketinggian (kedudukan) mereka di sisi Allah. Sahabat-sahabat pun bertanya: Beritaku kami siapa mereka wahai Rasulullah?! Nabi menjawab: Mereka adalah sekelompok orang yang saling berkasih sayang (karena mencari) Rahmat Allah semata, sekalipun mereka tak ada hubungan kekerabatan, atau harta yang dengannya mereka bisa saling memberi. Demi Allah, wajah-wajah mereka bercahaya, dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak khawatir di saat orang lain khawatir. Dan mereka tidak bersedih hati di saat orang lain bersedih hati. Lantas Nabi membacakan ayal : Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah, tidak ada rasa ketakutan atas mereka, dan mereka tidak pula bersedih hati." (HR. Abu Daud) 
Secara umum, hubungan dan relasi sesama manusia akan harmonis jika ada 2 (dua) faktor, sebagaimana diberitakan oleh Nabi saw. 
Pertama: Hubungan kekerabatan. Hal ini bisa dicerna dengan ucapan Nabi saw: Kekerabatan di antara mereka. 
Dan kedua: Kepentingan materi. Hal ini sudah diungkap Nabi dengan ucapan beliau: Harta, yang dengannya mereka bisa saling memberi. 
Siapa pun yang mau mencermati kelestarian hubungan sesama manusia, niscaya ia berkesimpulan dengan perasaan niscaya akan kebenaran ucapan Nabi saw ini. Ia dengan mudahnya menyimpulkan bahwa kelanggengan hubungan di antara dua pihak berkepentingan pasti disebabkan salah satu dari dua hal ini: 1. Karena faktor hubungan kekerabatan 2. Karena motif kepentingan materi. 
Dua faktor ini, apabila dipergunakan dalam kehidupan sosial secara benar, sendi- sendi kehidupan sosial (termasuk ekonomi) pun akan harmonis, bahkan menciptakan kehidupan yang teratur, aman, dan menjamin. 
Namun di sana ada derajat yang lebih tinggi dan lebih mulia di atas hubungan kekerabatan dan hubungan karena kepentingan duniawi ini. Bahkan mengajak manusia menuju kesucian mental menjauh dari kotoran-kotoran kehidupan dan sampah-sampah duniawi. 
Derajat ini tak akan dicapai terkecuali oleh orang-orang yang cinta-mencintai yang didorong motif semata mencari rahmat Allah. 
Pemuda pemudi Islam ..., tentu kalian mengerti sejauh mana kemuliaan derajat para Nabi di sisi Allah Ta'ala. Begitu pula para syuhada yang mereka telah menjual nyawanya di jalan Allah, dan mereka jual murah kehidupan dunia. 
Namun para nabi dan orang-orang mati syahid ini —wahai pemuda pemudi Islam— mereka mengagumi dan ridha kepada segolongan hamba Allah atas kemuliaan derajatnya di sisi Allah Ta'ala di hari kiamat nanti. Derajat cahaya yang menyirami mc reka dan memenuhi bentangan eksistensi nya. 
Itulah wali-wali Allah! Para wali yang Rabb mereka mempersaksikannya, sehingga Ia mengabadikannya dalam firman-Nya:
"Ketahuilah bahwasanya wali-wali Allah, sama sekali tak ada kesedihan atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati." (QS.Yunus, 62) 
Sebab hati, wajah, dan arwah mereka telah dinaungi oleh bahtera cahaya yang isinya rasa aman, ketentraman, ketenangan, dan kedamaian. Tidak dirasuki sama sekali oleh perasaan takut ataupun sedih selama- lamanya. 
Kenapa wahai pemuda pemudi Islam? Sebab hati manusia jika telah bersih dalam realitas nyata dengan cinta kepada Allah Ta'ala semata, dan ia merasakan kecintaan ini terus-menerus dalam seluruh gerakannya, istirahatnya, jaganya, tidurnya, pandangannya, pendengarannya, dan usahanya... akan timbul daripadanya pancaran kecintaan kepada seluruh alam, makhluk-makhluk, dan semua materi yang ada di semesta ini. Dan ia tidak menimbang-nimbang persoalan atau perkara, kecuali dengan satu timbangan. Pertimbangan kecintaan ilahi sejati, sehingga hidup matinya, berada di atas kecintaan Ilahi ini. 
Masih ingatkah kalian kisah sahabat agung Suhaib bin Sinan ar-Rumi dan sikapnya di hari hijrah dari Makkah ke Madinah? Di Mekkah ia tergolong kaya-raya. Milyuner menurut perhitungan orang sekarang. Namun di kala ia ingin hijrah dan bertemu Nabi saw di Madinah, ia dihadang oleh Qurays. Kemudian ia diceritakan kembali keadaannya oleh pemuka-pemuka Qurays di masa silamnya yang hanya seorang budak kasar, tak berarti, dan miskin papa. Lantas mereka menolehkan pandangan Suhaib yang kini sudah menjadi hartawan, kaya-raya, dan banyaknya harta yang dimiliki. 
Namun Suhaib hanya memandang mereka dengan tatapan kosong, tidak tergiur ocehan mereka agar tetap tinggal di Mekkah hanya karena harta. Akhirnya, Suhaib menyerahkan semua hartanya kepada Qurays dengan tujuan semata-mata bisa bertemu Nabi saw di Madinah. Qurays pun kemudian pergi membiarkan Suhaib ke Madinah dengan tak membawa hartanya. 
Benar-benar Suhaib lebih mengutamakan Allah dan kecintaan-Nya daripada semua kenikmatan dunia dan kelezatannya. Berharta atau tidak, tidaklah menjadi soal baginya, asalkan mendapatkan kecin- taan-Nya. Dan bagaimana ucapan Nabi saw di saat menyambut kedatangannya? Nabi pun tersenyum sembari mengatakan: 
"Telah beruntung perniagaanmu wahai Abu Yahya ... telah beruntung ... telah beruntung ..." 
Benar wahai pemuda pemudi Islam. Dan saya menginginkan kalian meneladani serta meniru para salihin yang telah beruntung. Juga agar kalian mendaki kecintaan karena mencari ridha Allah. Sesungguhnya itu adalah kedudukan para wali yang kagumi oleh para nabi dan syuhada'.

Wali Allah dan Buktinya


Tentang kedudukan para wali sebagai waliyullah, Allah swt tidak memberi tanda atau bukti yang menunjukkan mereka itu wali Allah. Artinya, tidak ada orang yang mengetahui bahwasanya seseorang itu wali. Waliyullah itu pun tidak memberi tanda kepada dirinya sendiri yang dapat menunjukkan bahwa ia telah menjadi wali. Tidak pula seorang pun yang dapat menunjukkan ciri-ciri bahwa seseorang itu wali. Jikalau ada orang yang mengenal seseorag itu wali, maka hal itu sangat luar biasa. Merupakan suatu keistimewaan yang dianugerahkan Allah untuknya. Hanya orang yang memiliki ma’rifat yang sudah tinggi sajalah yang mampu mengetahui hal itu, itupun tidak semua. Karena hanya wali sajalah yang mengetahui seseorang itu wali. 
 سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَجْعَلِِ الدَّلِيْلَ عَلَى اَوْلِيَآئِهِ اِلاَّ مِنْ حَيْثُ الدَّلِيْلُ عَلَيْهِ وَ لَمْ يُوْصِلْ اِلَيْهِمْ اِلاَّ مَنْ اَرَادَ اَنْ يُوَصِّلَهُ اِلَيْهِ٠ 
“Maha Suci Allah yang tidak menjadikan dalil (bukti), bagi para wali-Nya, kecuali sebagai tanda pengenalan dengannya. Tidak akan sampai kepada mereka, kecuali orang yang dikehendaki akan menyampaikannya kepada Allah.” 
Akan tetapi perlu diingat, mengenal wali itu , seperti dikatakan oleh Syekh Abul Abbas Al Mursy, sangat sukar. Lebih mudah mengenal Allah daripada mengenal wali, karena mengenal Allah itu dapat diketahui dari sifat-sitat-Nya, dan bekas ciptaan-Nya. Sedangkan sukarnya mengenal wali, disebabkan ia adalah manusia bersama kita, makan minum, tidur, belajar, beribadah, tidak beda dengan manusia lainnya. Mereka juga sering susah dan menderita, atau bisa juga senang dan gembira. 
Waliyullah atau wali Allah itu adalah hamba Allah yang memperoleh nurullah. Para Wali itu fana dalam dirinya, akan tetapi tetap baqa dalam musyahadah dengan Allah. Wali menerima cahaya Allah, tidak dengan sendirinya. Ia pun melatih dirinya tahap demi tahap, sehingga ia tiba pada maqam (tingkat) kesempurnaan makrifat. Kemakrifatannya kepada Allah yang sangat dekat, karena taqarrub-Nya tidak ada henti-hentinya, membuat ia menjadi kekasih Allah (Waliyullah). 
Perlu dipahami dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya bagi setiap mukmin yang selalu patuh kepada perintah dan larangan Allah, serta menjalankan ibadah dengan tertib dan penuh keikhlasan, mereka selalu dijaga dan mendapat perlindungan Allah. Karena Allah itu adalah wali dari orang mukmin. 
Allah swt. mengingatkan para mukminin, "
Allah adalah wali Orang beriman. Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Adapun orang yang kafir, wali mereka itu adalah taghut (berhala) yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan, mereka menjadi penghuni neraka dan kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 257)

Alam Gaib dan Alam Malakut


“Boleh jadi Allah swt memaparkan kepadamu perihal alam gaib dan alam malakut. Allah swt pun menutup untukmu, beberapa rahasia para hamba."
 رُبَّمََا اَطْلَعَكَ عَلَى غَيْبِ مَلَكُوْتِهِ وَ حَجَبَ عَنْكَ الإِسْتِشْرَافَ عَلَى اَسْرَارِ الْعِبَادِ٠ 

Sifat Al Latif Allah swt, tidak memperkenankan hamba-hamba-Nya mengetahui rahasia yang berhubungan dengan makhluk Allah. Sebab soal manusia dan makhluk Allah lainnya adalah soal Allah yang tidak seorang pun mengetahuinya. Allah swt jualah yang mengatur hamba- hamba termasuk Wali Allah itu sendiri. Allah sendiri yang mengetahui rahasia manusia dan alam semesta. Apabila Allah swt membuka rahasia alam semesta ini kepada Wali-wali-Nya, niscaya rusaklah tatanan alam nista ini, karena ikut campurnya manusia. Bagaimanapun dekatnya Waliyullah itu dengan Allah swt. ia tidak mengetahui semua rahasia Allah yang sedang dan akan berjalan di alam raya ini.

Walaupun Waliyullah itu dibukakan oleh Allah beberapa alam gaib, seperti alam malakut (alam kegaiban di langit), akan tetapi bersamaan dengan itu Allah swt menutup bagi Waliyullah itu alam lain, terutama kerahasiaan hamba-hamba Allah.

Selain itu kemahabesaran Allah swt dan keagungan membedakan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya termasuk para Nabi dan Rasul. Demikian juga dengan segala ciptaan Allah, semuanya terdapat rahasia Allah. Manusia yang sangat terbatas kemampuan jasmani dan ruhaninya. Apabila Allah membuka semua rahasia ciptaan-Nya, maka rusaklah manusia itu serta makhluk lainnya.

Sahal bin Abdullah ketika ditanya oleh seorang muridnya perihal mengetahui seseorang sebagai Wali. Ia menjawab, "Sesungguhnya Allah tidak memperkenalkan mereka itu kecuali kepada para hamba yang sama dengan mereka, atau kepada hamba yang bisa memperoleh manfaat dari mereka dalam hubungan taqarrub kepada Allah swt. Sebab, jikalau Allah memaparkan seluruh rahasia kewalian hamba-hamba-Nya tanpa batas, maka dikuatirkan manusia akan menjadikan para Waliyullah itu sebagai ikutan di samping Allah. Hal ini sangat membahayakan ketauhidan.

Kelemahan manusia dan kecerobohan makhluk itulah yang menyebabkan Allah tidak memperkenalkan kerahasiaan tentang para Waliyullah itu. Allah swt pun menutup penglihatan manusia dengan hijab basyariyah mereka, agar mereka tidak melampaui batas dan melanggar hak-hak Allah, dan berlebih-lebihan dalam hak - hak makhluk. Karena Allah swt dengan-kesempurnaan sifat-Nya tetap memelihara hamba-hamba agar tidak tergelincir kepada perbuatan yang| membawa mereka ke lembah kesesatan dan kemusyrikan. Karena sudah dijelaskan sebelum ini, dalam surat Al Baqarah ayat 257, bahwasanya Allah swt. itu pengayom (wali) bagi orang mukmin. Demikian juga dalam surat Ali Imran ayat 68, Allah swt berfirman: "Allah swt adalah Pelindung (wali)nya orang-orang beriman."

Diterangkan pula oleh Abu Talib Al Makky dalam beberapa karyanya, bahwa Allah swt menutup pandangan para hamba dalam kerahasian-Nya sebagai karunia Allah sendiri, sebagai penutup di antara sesama hamba Allah. Tujuannya seperti yang dipahami oleh sebagian Ulama dan para Salihin, mereka sendiri ditutup pandangan dari rahasia-rahasia yang dikehendaki Allah. Sebab, andaikata mereka mengetahui rahasia Allah, maka mereka melanggar hak-hak wilayah Allah swt. 
Di samping itu para hamba hendaklah yakin bahwa rahasia-rahasia Ulah di alam semesta ini diperlukan oleh mereka. Karena hijab Allah itu lebih baik bagi mereka, karena mereka harus husnuzzan (berprasangka baik) atas semua ciptaan Allah swt. 
Percaya bahwa Waliyullah itu ada, dibenarkan oleh Islam. Karena mereka itu adalah manusia istimewa yang sangat dekat dengan-Nya, serta mendapat perlindungan dari Allah swt. Kehormatan dan kemuliaan Waliyullah hendaklah dijaga dan tidak mengada-adakan hal-hal yang melanggar hak-hak Allah sendiri yang membawa kepada kemusyrikan. Dalam hadis Qudsi diterangkan, "Orang yang mengotori kewalian dari wali - wali Allah, maka sama seperti ia telah memaklumkan perang dengan Allah." 
Wali Allah itu adalah manusia suci. Oleh karena itu kesucian wali wali Allah jangan dikotori oleh hal-hal dan tidak pantas, apalagi menyamakan mereka dengan Allah swt dalam kemampuan dan sifat- sifat Nya.

Perbedaan Muslimin, Orang Arifin dan Ahli Hakikat


Allah SWT. telah menjadikan kaum muslimin sebagai para hamba-Nya. Diantara mereka ada yang mengikuti, mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Ada pula yang sengaja melakukan pengingkaran dan kedurhakaan. Oleh karena itu, permulaan ayat yang diturunkan oleh Allah SWT. kepada Rasul-Nya Nabi Muhammad saw. adalah Dengan Nama Tuhanmu " Allah telah mendampingi perintah-Nya dengan kata Maha Mendidik. Karena itu tempat yang layak, disebabkan telah diharuskan atas mereka melakukan berbagai ibadah. Sesungguhnya  seorang hamba diwajibkan menyembah Tuhannya dan kaum muslimin beribadat kepada Allah SWT. dari jurusan namanya Ar-rabb (Yang Maha Pendidik), hingga tiada memungkinkan mereka untuk menyembah-Nya tanpa yang demikian itu.

Akan tetapi, para orang arif atau "Arifin" menyembah-Nya dari jurusan nama-Nya yaitu Ar-Rahman. Karena tajadi wujud-Nya yang meliputi semua yang maujud (ada). Dengan demikian, mereka menaruh perhatian penuh demi nama-Nya ("Ar-Rahman") dan menyembah Allah dari jurusan martabat "Ar Rahmaniah".

Berlainan dengan ahli hakikat, yang mana ibadah mereka hanya demi untuk-Nya dari jurusan nama Allah. Puja-puji mereka hanyalah dengan apa yang layak bagi Allah SWT. dari nama dan sifat-Nya, dimana mereka telah bersifat dengannya. Karena sesungguhnya, hakikat puja-puji adalah agar anda bersifat dengan apa yang anda mensifati diri dengannya dari nama atau sifat yang anda telah memuji dan telah mensyukuri-Nya.

Sebagaimana firman Allah SWT. :

"(Tuhan) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arsy. Kepunyaan-Nyalah semua yang berada diantara keduanya. Juga semua yang terpendam di bawah tanah."    (Thaha 5-6)

Dan firman-Nya :
 
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar ajakan penyeru (Rasul) yang menyeru kepada iman, yaitu: Berimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan- kesalahan serta wafatkanlah kami bersama orang-orang yang banyak berbakti." (Al Imran 193)

Dan firman-Nya yang lain :
 
"Apakah Allah yang lebih baik ataukah apa yang mereda persekutukan dengan Dia?."  (An Naml 59)
Adapun amal mereka adalah dengan mengambil yang terbaik dan yang lebih terjamin kemurniannya.