Sabtu, 22 Februari 2020

Sejarah Sunan Bejagung Tuban


Nama Sunan Bejagung adalah Sayyid Abdullah Asy’ari bin Sayyid Jamaluddin Kubro.Menurut keterangan dari Syekh Abu Al-Fadl (Mbah Ndol), beliau adalah adik Sayyid Maulana Ibrahim Asmoroqondi (ayah Sunan Ampel atau kakek Sunan Bonang).Sayyid Abdullah Asy’ari bermukim di Bejagung Tuban, setelah wafat di makamkan di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding (2 Km kearah selatan kota Tuban) yang sekarang disebut Sunan Bejagung.
Silsilah Sunan Bejagung dengan urutan Nabi Muhammad adalah sebagai berikut:
Nabi Muhammad SAW,
Siti Fatimah Az-Zahro’ (istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib),
Sayyid Husain,
Sayyid Ali Zainul Abidin,
Sayyid Muhammad Al-Baqir,
Sayyid Ja’far Shodiq,
Sayyid Ali A1 ‘yroidii,
Sayyid An-Naqib Ar- Rumi,
Sayyid Isa An-Naqib Al-Bashori,
Sayyid Achmad Muhajir Al-Faqih Al-Muqoddam,
Sayyid Ubaidillah,
Sayyid Alawi,
Sayyid Muhammad,
Sayyid ‘Alawi,
Sayyid Ali Kholi’ Qosam,
Sayyid Muhammad Shodiq Murrobath,
Sayyid Abdul Malik,
Sayyid Abdullah Khan,
Sayyid Ahmad Syah,
Sayyid Jamaluddin Al-Husaini/ Sayyid Jamalludin Kubra/ Sayyid Jumaddil Kubro,
Sayyid Abdullah Asy’ari (Sunan Bejagung, Tuban).
 
Sayyid Abdullah Asy’ari bermukim di Desa Bejagung, Sunan Bejagung Lor Tuban, setelah wafat di makamkan di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding (2 Km kearah selatan kota Tuban) yang sekarang disebut Sunan Bejagung.
Kalau Anda berkunjung ke Tuban, jangan lupa berziarah ke makam Sunan Bejagung. Memang, situs ini tak sepopuler makam Sunan Bonang. Tapi, jangan salah, selain mulai ramai dikunjungi, situs ini juga dikeramatkan orang. Mengapa?
Makam Sunan Bejagung atau Syech Abdullah Asy’ari terletak di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding. Sebuah tanah perdikan wilayah Kabupaten Tuban yang kering dan berbatu. Dari pusat kota yang digelari Bumi Ronggolawe itu hanya berjarak sekitar satu kilometer arah selatan, atau berada dalam satu jalur dengan objek wisata pemandian Bektiharjo.
Situs wisata religi ini dikeramatkan orang lantaran semasa hidupnya Sunan Bejagung dikenal sebagai penyulut pelita dan muadzin di Masjidil Haram. Konon, hanya Sunan Bejagung yang mampu melaksanakan tugas itu. Dan, yang menakjubkan, ketika waktu manjing (masuk) shalat isya’ tiba, Sunan Bejagung sudah kembali berada di tengah ratusan santrinya menjadi imam shalat.
Legenda tersebut hingga kini masih hidup dan dipahami sebagai salah satu kelebihan ulama kelahiran Hadrah Maut atau sekarang disebut Yaman itu.
Akses jalan menuju dua kompleks pemakaman yang disebut Bejagung Lor (utara) dan Bejagung Kidul (selatan) kini sudah beraspal hotmix.
Di kawasan ini juga terdapat kompleks pemakaman Citro Sunan yang letaknya hanya dibatasi jalan raya jurusan Tuban-Bojonegoro. Sebuah jalur alternatif pada jurusun yang sama ketika jalur Tuban-Surabaya atau jalur bawah mengalami kemacetan.
Menurut KH Dr Abdul Matin SH, penyusun Babad Sunan Bejagung, pada awalnya tidak ada istilah Bejagung Lor dan Kidul. “Karena memang Sunan Bejagung hanya ada satu yakni Syech Maulana Abdullah Asy’ari,” jelas Kiai Matin yang juga pengasuh Ponpes Sunan Bejagung. Diruntut secara garis dzurriyah, Kiai Matin termasuk keturunan ke-12 sunan yang semasa hidupnya dikenal santun dan lemah lembut itu.
Pangeran Kusumo Hadiningrat ‎
Sebutan dua nama berbeda itu, papar Kiai Matin, berawal dari kedatangan Pangeran Kusumo Hadiningrat atau Pangeran Sudimoro ke perdikan Bejagung atas perintah Syech Jumadil Kubro untuk memperdalam ilmu ketauhidan kepada Syeh Asy’ari. Karena wara’i-nya, lantas putra keempat Prabu Brawijaya atau Prabu Hayam Wuruk ini dijadikan menantu oleh Sunan Bejagung untuk menikahi salah seorang putrinya, Nyai Faiqoh.
Dalam perjalanannya, putra mahkota Majapahit yang meninggalkan gemerlap cahaya istana dan memilih menjadi santri Sunan Bejagung akibat konflik perebutan kekuasaan antara dua bersaudara Pangeran Wirabumi dan Putri Kusuma Wardani, kemudian berganti nama menjadi Hasyim Alamuddin atau yang kemudian lebih dikenal dengan gelar santrinya Pangeran Penghulu.
“Perdikan Bejagung Kidul inilah yang dulu menjadi pusat penyebaran agama Islam dengan segala aktifitas pesantrennya yang dilakukan oleh Syech Asy’ari,” jelas Kiai Matin yang dikenal balaghah membedah berbagai kitab kuning dan pernah menakhodai NU Tuban sebagai Rais Tanfidziyah selama dua periode beruntun itu.
Dijelaskan Kiai Matin, karena memiliki kemampuan yang dianggap sudah setara dengan Sunan Bejagung, akhirnya seluruh tugas dakwah di Kasunan Bejagung diserahkan kepada Pangeran Penghulu. Itu adalah sebuah penghargaan tertinggi yang diberikan Sunan Bejagung kepada putra mantunya.‎
Setelah semua tugas dakwah diserahkan kepada menantunya, kemudian Sunan Bejagung memilih uzlah (pindah) ke perdikan Bejagung Lor sampai akhir hayatnya. “Secara tradisi setiap peziarah yang akan melakukan rialat di makam Sunan Bejagung harus dimulai dari makam Bejagung Kidul terlebih dulu. Meski secara personal status maqam kewaliannya lebih tinggi dari Bejagung Lor,” kata Kiai Matin.‎
Apa yang dilakukan Sunan Bejagung ini mengikuti jejak dan ibarat Rasulullah s.a.w. ketika memiliki menantu Sayyidina Ali. Sabda Rasulullah: ana madinatul ilmu wa Aliyyu babuha. Faman arodal Madinah faya’tiha min babiha (saya ibarat kotanya ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Maka barangsiapa akan menuju kota henaklah melalui pintu kota).
Sunan Bejagung yang terlahir dengan nama Maulana Abdullah Asy'ari adalah salah satu putra dari  Sayyid Jamaluddin Al Kusaini Al Kubro atau Syech Jamaludin Kubro yang kemudian kesohor dengan panggilan Syech Jumadil Kubro. Keturunan yang melahirkan generasi Wali Songo bersama kakak kandungnya Syech Maulana Ibrahim Asmoro Qodhi yang kelak lebih populer disebut Syaikh Maghribi atau Sunan Gresik.
Keduanya memilih Tuban sebagai rumah terakhir setelah mengemban misi dakwah menyebarkan Islam di Kadipaten (sekarang kabupaten) Tuban dari ayahandanya Syech Jumadil Kubro pasca meredupnya kejayaan kerajaan Pasai.
Dan di bumi Tuban itu pula jasad keduanya disemayamkan, sehingga bumi kabupaten ini kondang dengan sebutan Bumi Wali.
Maulana Ibrahim Asmoro Qodhi (Sunan Gesik) dimakamkan di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, lima kilometer arah timur kotaTuban.
Sedangkan Syech Asy’ari disemayamkan di tlatah Bejagung, tempat semasa hidupnya melakukan dakwah dengan senjata kelembutan dan kebersahajaan. 
Dibalik Karomah Sunan Bejagung‎
Penyebaran Agama Islam di kabupaten Tuban tidak terlepas dari peran seorang ulama besar bernama Syekh Abdullah As’ari (Sunan Bejagung Lor). Syekh Abdullah As’ari mengemban misi dakwah, menyebarkan agama Islam ke tanah Jawa dari ayahandanya yang bernama Syekh Maulana Ibrahim Asmara bin Sayyid Jamaludin Al Khusaini Al Kubra atau tersohor dengan sebutan Syekh Jumadil Kubra.
Pasca meredupnya kerajaan Pasai pada abad ke-14 Masehi, empat orang ulama besar melakukan siar agama Islam ke tanah Jawa. Salah satunya adalah Syekh Abdullah As’ari. Beliau memilih Tuban sebagai tempat singgah dan menyebarkan Agama Islam sampai beliau wafat. Kemudian beliau di makamkan di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Satu kilometer ke arah selatan dari pusat kota Tuban.
Semasa dakwah yang dilakukan Sunan Bejagung di Tuban, ada beberapa situs-situs bersejarah, peningalan Sunan Bejagung Lor. Sampai saat ini masih terjaga dengan baik. Salah satu peninggalan Sunan Bejagung Lor adalah masjid yang berada di komplek makam bagian depan. Bagian tempat imam masjid dan ruang tengah masjid merupakan konstruksi asli sejak Masjid Agung Sunan Bejagung Lor didirikan pada tahun 1314 Masehi. Masjid ini juga merupakan tempat yang dikeramatkan orang, lantaran biasanya masjid ini digunakan untuk melakukan sumpah pocong.
Meskipun kebiasaan tersebut dilarang oleh juru kunci, tetapi anggapan masyarakat yang melandasi kepercayaan tersebut tidak dapat dihilangkan. Ritual sumpah pocong yang dilakukan di masjid ini, rata-rata dilakukan oleh masyarakat dan peziarah karena menerima suatu tuduhan dan fitnah. Untuk membuktikan kebenaran dari tuduhan dan fitnah tersebut maka dilakukan sumpah pocong. Setelah  ritual sumpah pocong itu, akan terlihat mana yang salah, dan mana yang benar antara kedua belah pihak. Sesuai dengan sumpah yang diajukan berdasarkan fitnah dan tuduhan tersebut.
Selain itu, ada situs berupa dua Cungkup Penadzaran yang mengapit jalan setapak menuju makam Sunan Bejagung Lor. Biasanya cungkup ini digunakan warga sekitar atau peziarah untuk mewujudkan nadzarnya. Berupa penyembelihan kambing atau lembu di tempat tersebut. Sebagai media sedekah kepada sesama umat manusia. Jika melakukan penadzaran di cungkup tersebut, maka para penadzar cukup menyediakan bumbu dapur lengkap, beras untuk dijadikan tumpeng, dan hewan yang disembelih. Seluruh proses dan persiapan penadzaran dilakukan Oleh Mrebot(pembantu juru kunci) mulai dari menyembelih, memasak, sampai mengundang warga sekitar untuk kenduren di tempat tersebut.
Proses penadzaran dilakukan ditempat itu, karena dikhawatirkan kalau prosesnya dilakukan di tempat lain, darah dan tulang hewan yang disembelih berserakan dimana-mana. Prosesi penyembelihan dan memasak hewan nadzar dilakukan di Cungkup itu, maka para Mrebot telah siap untuk mengelola dan mengumpulkan segala sisa-sisa upacara penadzaran, dijadikan satu kemudian dikubur di sekitar kompleks pemakaman Sunan Bejagung Lor.
Karena upacara ritual penadzaran yang dilakukan di Cungkup Penadzaran ini kerap dilakukan, ditambah lagi karena Sunan Bejagung Lor gemar bersedekah, maka di zaman dulu ketika Sunan Bejagung Lor masih menjadi Modin di kawasan perdikan Bejagung, warga dilarang untuk menjual nasi. Sebagai wujud penghormatan kepada para penadzar yang melakukan penadzaran di tempat tersebut. Wujud rasa hormat masyarakat, terhadap petuah Sunan Bejagung Lor dan para penadzar,  diwujudkan oleh masyarakat dengan tidak menjual nasi di sekitar Padepokan Sunan Bejagung Lor.
Sampai sekarang, kepercayaan masyarakat Bejagung dan sekitarnya masih ada. Dan petuah itu melekat pada pemikiran masyarakat tersebut. Hal itu terbukti bahwa sampai saat ini tidak ditemukan kedai warung nasi di sekitar makam Sunan Bejagung. Baik di makam Sunan Bejagung Lor*.  Maupun di Makam Sunan Bejagung Kidul*. Yang ada hanyalah warga yang menjual lontong tahu. Pemikiran masyarakat, baik yang melakukan penadzaran  untuk mewujudkan hajatnya, ataupun masyarakat yang tidak berani berjualan nasi, masih terjaga sampai sekarang. Mitos yang beredar di masyarakat, bahwa kalau menjual nasi, pada malam harinya warung tersebut akan didatangi harimau putih.
Ada yang unik di area kompleks makam Sunan Bejagung Lor. Yaitu bangunan gapura yang kecil, rendah, dan sempit. Bangunan gapura-gapura tersebut tak lazim dengan bangunan gapura pada umummya. Biasanya bangunan gapura di tempat manapun terkenal dengan sebuah benteng pintu masuk yang megah, tinggi, kokoh, dan besar. Di padepokan Sunan Bejagung Lor (sekarang menjadi kompleks pemakaman Sunan Bejagung Lor) tidak seperti itu. Bangunan gapura yang kecil, rendah, dan sempit mengisyaratkan kepada seluruh santrinya untuk senantiasa menunduk. Dalam artian untuk selalu menjaga kesopanan berperilaku, kesantunan dalam berbahasa, tawaduk, dan mawas diri. Apa yangdipasemonkan oleh Sunan Bejagung Lor dapat dibuktikan dengan gelagat seseorang dengan menunduk. Orang ketika menunduk, pasti saat berbicara, berperilaku lebih sopan dan santun, dibandingkan dengan orang yang berbicara membusungkan dada dan mengadah ke atas. Itulah salah satu ajaran Sunan Bejagung Lor Yang terkenal dengan kelembutan dan kebersahajaan.
Di sebelah Selatan makam Sunan Bejagung Lor juga terdapat sebuah situs yang dikeramatkan.  Tidak kalah penting dan estetis dengan situs-situs lainnya. Situs yang  berada di sebelah selatan makam Sunan Bejagung Lor tersebut berupa sumur Wali yang usianya ribuan tahun. Kedalamannya mencapai 40 meter. Sumur tersebut dibuat Sunan Bejagung Lor, karena melihat tanah perdikan yang diamanahkan oleh Adipati Tuban kepada Sunan Bejagung Lor, tanahnya  kering kerontang, terjadi kekeringan, dan warga kesulitan pengadaan air. Maka muncul inisiatif sang wali untuk membuat sebuah sumur di tanah tandus. Dengan memohon ridho Allah SWT. Akhirnya sang wali mendapatkan petunjuk untuk membuat sumur di sebelah selatan padepokannya. Pembuat sumur tersebut tidak lain adalah santrinya sendiri yang bernama Mbah Pamor. Beliau merupakan salah satu santri Sunan Bejagung Lor yang paling setia kepada sang wali Allah Sunan Bejagung Lor. Selain kesetiaanya, beliau juga taat beribadah kepada Allah SWT.
Dengan izin Allah, sumur yang dibuat oleh Sunan Bejagung Lor tidak pernah kering walaupun terjadi kekeringan di musim kemarau panjang. Selain tidak pernah kekeringan dan digunakan untuk  kebutuhan sahari-hari oleh warga sekitar, air sumur tersebut  juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kegunaan seperti menyembuhkan penyakit gatal-gatal, penyakit dalam yang tak terdeteksi oleh medis, pengasihan, dan keselamatan. Selain itu juga sebagai sarana untuk mewujudkan nadzar orang tua kepada anak. Apabila orang itu bernadzar, anak sembuh dari sakit, maka kewajiban orang tua adalah memandikan anak tersebut di sumur wali, guna memenuhi nadzarnya tersebut.
Untuk penyembuhan penyakit dalam, air sumur tersebut tidak usah dimasak atau dicampur dengan air lain. Air tersebut dapat dikonsumsi secara langsung, tetapi sebelum meminum air tersebut disunahkan membaca kalimat syahadat dan salawat nabi sebanyak tiga kali. Jika air diminum di tempat tersebut, maka ada juru bantu (Mrebot) yang menjelaskan prosedur yang harus dilakukan para peziarah dalam mengunjungi sumur Wali tersebut.
 Ada beberapa prosedur yang harus dilakukan oleh para peziarah ketika berkunjung ke sumur wali tersebut. Pertama, harus membeli bunga terlebih dulu. Bunga yang dibeli, kemudian diserahkan kepada panitia penyelenggara pengambilan air sumur yang ditugaskan oleh juru kunci makam. Kedua, memberikan infaq seikhlasnya, bersamaan dengan pengambilan air tersebut. Ketiga,air yang telah diambil, dicampur dengan bunga, sebelum air tersebut dimanfaatkan oleh para peziarah. Pencampuran  dilakukan oleh panitia (Mrebot). Kalau untuk perantara menyembuhkan penyakit dalam, air tersebut diminum dan diusapkan pada bagian yang sakit. Sambil membaca kalimat Syahadat dan Salawat Nabi tiga kali.
Pengambilan air yang dilakukan oleh paraMrebot tergolong cukup unik. Karena pengambilannya menggunakan pemintal gulungan tali, penumpu, dan poros. Diputar seperti halnya pemintal benang yang digunakan pengrajin batik Gedog, yang ada di kecamatan Kerek. Pengambilan dilakukan oleh para Mrebot dan tidak bisa diwakilkan oleh siapapun. Hal itu terbukti, bahwa orang yang menjadi Mrebot rata-rata sudah berusia lanjut.
Mengunjungi sumur wali tersebut juga menentukan dan memilih hari yang dianggap paling baik. Menurut kepercayaan pengunjung dan masyarakat sekitar, hari Kamis Pon Malam Jumat Wage merupakan hari yang paling istimewa untuk mengunjungi sumur Wali tersebut. Pemilihan hari Jumat Wage dilandasi dari sebuah peristiwa di masa lalu. Ketika sang sunan menjadi Modin. Kebiasaan-kebiasaan sang sunan mengadakan pertemuan-pertemuan penting dengan para pejabat kerajaan atau ketika sedang mengadakan pengajian di Padepokan pada malam Jumat Wage, secara rutin. Dengan dasar kebiasaan ini, para peziarah sampai sekarang mempercayai bahwa hari Kamis Pon malam Jumat Wage merupakan hari istimewa untuk mengunjungi Padepokan atau Kasunanan Bejagung (sekarang menjadi kompleks pemakaman Sunan Bejagung Lor).
Hal itu juga melandasi pemikiran para masyarakat setempat dan para peziarah untuk berziarah ke makam Sunan Bejagung Lor. Biasanya hari Kamis Pon malam Jumat Wage, para peziarah berjubel di makam Sunan Bejagung Lor. Bahkan ada yang menginap di makam tersebut sambil berdoa kepada Allah SWT. Dan melalui karomah Sunan Bejagung Lor atau Kidul, berharap hajat yang dimiliki para peziarah dapat terkabul, dijauhkan dari mara bahaya. Kepercayaan yang menganggap hari Kamis Pon malam Jumat Wage adalah hari paling istimewa, masih ada dan melandasi pemikiran masyarakat dalam mengunjungi makam Sunan Bejagung Lor dan makam Sunan Bejagung Kidul.
Penyulut Pelita dan Muadzin Masjidil Haram
Beberapa karomah yang  lain yang dimiliki oleh Sunan Bejagung Lor, dikeramatkan orang, lantaran semasa hidupnya Syekh Abdullah As’ari (Sunan Bejagung Lor) dikenal sebagai penyulut pelita (lampu) dan muadzin di Masjidil Haram. Setiap sore menjelang Adzan Magrib, Sunan Bejagung Lor  pergi ke Masjidil Haram, Makkah. Konon, hanya Sunan Bejagung  Lor lah yang mampu melaksanakan tugas itu. Dan, yang menajubkan lagi, manakala memasuki waktu salat Isya, Sunan bejagung sudah kembali  berada di tengah ratusan santrinya dan menjadi imam salat Isya di masjid Agung Sunan Bejagung.
Sebagai seorang wali, sekaligus juga sebagai penyulut pelita di Masjidil Haram, Sunan Bejagung Lor juga pernah digoda oleh Jin. Ketika Sunan Bejagung  Lor hendak melakukan perjalanan haji menuju Masjidil Haram, beliau ditipu oleh Jin yang menjelma menjadi santrinya. Jin yang berwujud santrinya tersebut sanggup mengantarkan dan menggendong Sunan Bejagung Lor dari Bejagung sampai Masjidil Haram. Sunan Bejagung Lor menyetujui penawaran santrinya yang berwujud Jin tersebut. Sesampai di samudra, Sunan Bejagung Lor dijatuhkan ke dalam samudra. Kemudian beliau ditolong oleh ikan Meladang. Ikan tersebut kemudian membawa Sunan Bejagung Lor sampai ke pesisir pantai Jeddah, Hadrah Maut (Saudi Arabia). 
Dari peristiwa dijatuhkannya Sunan Bejagung Lor  ke samudra oleh santrinya yang berwujud Jin, terdapat pantangan bagi masyarakat bejagung dan sekitarnya. Terutama keturunan lansung dari Sunan bejagung Lor. Setelah sampai di Saudi Arabia, Sunan Bejagung Lor berpesan kepada anak cucu, masyarakat Bejagung dan sekitarnya, tidak boleh memakan ikan Meladang (ikan yang berbentuk pipih, kulitnya halus seperti kulit manusia).  Karena ikan tersebut telah menyelamatkan Sunan Bejagung Lor ketika dijatuhkan santrinya yang berwujud Jin ke samudra. Dan ikan tersebut telah membawa Sunan  Bejagung Lor ke tepi Pantai Hadrah Maut. Barang siapa yang melanggar pantangan tersebut, maka orang yang memakan ikan Meladang dengan sengaja, akan menderita penyakit buras (sejenis penyakit gatal-gatal dan timbul bisul di seluruh tubuh). Penyakit buras tersebut tidak ada obatnya secara medis. Jika menginginkan kesembuhan, harus mandi air sumur Wali yang berada di sebelah selatan komplek makam Sunan Bejagung Lor. Sampai sekarang, baik keturunan, masyarakat Bejagung, dan sekitarnya tidak ada yang berani melanggar pantangan tersebut.
Siti Garit dan Watu Gajah
Pangeran Sudimoro, putra mahkota kerajaan Majapahit yang tidak ingin menjadi putra mahkota kerajaan, meninggalkan kerajaan Majapahit dan berguru mencari ilmu. Ia pergi ke Tuban mencari Guru Ilmu Syariat , Tarekat, Hakikat, dan Marifat. Sesuai dengan petunjuk Syekh Jumadil Kubra, beliau disuruh menemui Syekh Abdullah As’ari (Sunan Bejaung Lor). Setelah sampai di Tuban, beliau bertemu dengan Sunan Bejagung Lor. Kemudian Pangeran Sudimoro mengaji kepada beliau. Sampai menjadi orang Alim.
Ketika pangeran Sudimoro masih mengaji di Kasunanan Bejagung, Prabu Hayam wuruk berusaha mencarinya. Setelah mengetahui bahwa putranya mengaji di Padepokan Sunan Bejagung Tuban, maka Prabu Brawijaya IV memerintahkan Patihnya bernama Gajah Mada dan bala tentaranya untuk mengajak Putra Mahkota (Pangeran Sudimoro)  pulang ke Majapahit.
Berita tersebut didengar oleh Pangeran Sudimoro. Beliau menghadap kepada Sunan Bejagung Lor. Meminta perlindungan dan bantuan Sunan Bejagung  untuk menolak keinginan Sang Prabu Hayam Wuruk. Sebab Pangeran Sudimoro ingin tetap menekuni ilmu Agama Islam. Kehendak Pangeran Sudimoro tersebut dikabulkan oleh Sunan Bejagung Lor.
Selanjutnya Sunan Bejagung menggaris tanah sekitar Padepokan Kasunanan Bejagung. Berbentuk segi empat mengitari kasunanan Bejagung. Agar tentara Majapahit tidak bisa masuk Kasunanan Bejagung. Ketika mahapatih Gajah Mada yang  tersohor dengan ilmu BaratKetiga dan bala tentara Majapahit hendak menjemput pangeran Sudimoro di kasunanan Bejagung. Ternyata tentara Majapahit tidak bisa masuk ke kasunanan Bejagung. begitu juga dengan mahapatih Gajah mada yang terkenal dengan ilmunya Barat Ketiga (ilmu kecepatan angin kemarau). Garisan tanah yang dibuat oleh Sunan Bejagung Lor tersebut dikenal dengan nama Siti Garet. 
Masyarakat sekitar memandang bahwa Siti Garet merupakan fenomena gaib. Tidak semua orang yang dapat melihatnya. Selain itu, Siti Garet merupakan tempat untuk bersembunyi para pejuang ketika dikejar-kejar tentara Belanda. Kalau  pejuang masuk kasunanan tersebut, para tentara Belanda tidak bisa ikut masuk. Karena pandangannya terhalang oleh kabut. Selain itu, adanya Siti Garet juga mempengaruhi pandangan para pejabat negara dan kerajaan. Apabila pejabat negara telah lancang masuk ke Kasunanan Bejagung – memiliki niat yang tidak baik, maka pejabat negara tersebut dalam waktu dekat akan lengser dari jabatannya. Sampai sekarang pandangan tersebut masih ada dalam pandangan sebagian masyarakat dan para pejabat negara di Indonesia. Semua itu dilandasi dengan adanya pasukan dan pejabat kerajaan Majapahit yang tidak dapat masuk Kasunanan ketika akan menjemput Pangeran Kusumo / Pangeran Sudimoro/pangeran Pengulu.
Pasukan-pasukan Majapahit dan bala tentara gajah akhirnya terhenti di sebelah selatan Kasunanan. Salah seorang santri melapor kepada Sunan bahwa di sebelah selatan Kasunanan Bejagung  banyak pasukan Gajah dari Majapahit. Sunan mengatakan,  tidak gajah tetapi batu. Seketika itu semua gajah menjadi batu. Sampai sekarang, tempat berhentinya pasukan gajah tersebut dikenal dengan sebutan Watu Gajah(Batu Gajah). Letaknya di sebelah Barat Laut kantor Kecamatan Semanding.
Pangeran Sudimoro yang terkenal rajin mengaji dan alim, kemudian diberikan gelar Pangeran Pengulu/Syekh Hasyim Alamuddin (sekarang dikenal dengan sebutan Sunan Bejagung Kidul) oleh sunan Bejagung Lor. Akhirnya, diambil menantu oleh Sunan Bejagung Lor dan ditetapkan menjadi penerus di Kasunanan Bejagung. Semenatara Sunan Bejagung Lor Uzlah (berpindah tempat) di sebelah utara Kasunanan.
Ikan Dodok dari Daun Waru
Setelah seluruh  pasukan gajah dari Majapahit menjadi batu, para pasukan Majapahit kembali dan Lapor kepada Prabu Hayamwuruk.Bahwa semua pasukan Gajah kerajaan Majapahit menjadi batu di Tuban. Kemudian Sang Prabu memerintahkan kepada Patih Gajah Mada(terkenal dengan ilmu Barat Ketigo). Untuk menguji sampai sejauh mana ilmu Sunan Bejagung Lor.
Maha Patih Gajah Mada berangkat tanpa bala tentara menuju pesisir utara Kadipaten Tuban, ia menyamar dan menggunakan nama Barat Ketiga(suatu nama ilmu tinggi yang dimilikinya). Ia mengaduk air laut Tuban sampai keruh. Dan berpura-pura mencari ikan Dodok. Setelah diketahui oleh Sunan Bejagung Lor, Barat ketiga ditanya Sunan Bejagung Lor, jawabannya bahwa Barat Ketiga sedang mencari ikan dodok, karena adiknya hamil dan ngidam ingin makan ikan Dodok.
Akhirnya Sunan Bejagung mengambil lontar dan membuat timba. Barat Ketiga diperintahkan untuk mengambil daun waru. Setelah timba/tempayan lontar tersebut diisi dengan air dan daun waru dimasukkan kedalam timba. Seketika itu daun waru menjadi ikan Dodok. Kejadian ini diingat oleh Masyarakat Bejagung. Bahwa sampai sekarang apabila mengadakan kenduri atau sedang bersih desa selalu menggunakan lauk ikan Dodok.
Maja Agung
Barat Ketiga ingin menguji lagi Kesaktian Sunan Bejagung Lor. Ia  pergi ke perdikan Bejagung. Setelah berada di ladang Sunan Bejagung, ia menggoyang pohon Kelapa. Sunan Bejagung bertanya, “untuk apa menggoyangkan pohon Kelapa?”  Barat Ketigo menjawab bahwa ia haus. Sunan Bejagung berkata, “Kalau digoyang keras yang muda ikut jatuh dan tidak bisa dimanfaatkan buahnya.”  Akhirnya Sunan Bejagung Lor mengambil buah kelapa dengan cara merebahkan  pohon kelapa dengan cangkul. Barat Ketigo dengan mudah mengambil buah kelapa yang sudah tua, tanpa merusak kelapa yang masih muda. Kemudian pohon kelapa dikembalikan tegak berdiri seperti semula.
Dia  kagum atas kesaktian Sunan Bejagung Lor. Tetapi ia masih belum puas, setelah ia meminum air kelapa, ia pura-pura masih haus. Ingin minum air yang banyak. Setelah kepura-puraannya itu disampaikan kepada Sunan Bejagung Lor, kemudian Kanjeng Sunan berkata,“Kalau demikian, tunggu di sini, saya ambilkan air.” Tidak lama kemudia Sunan Bejagung Lor mengambil air, dimasukkan ke dalam buah Maja kecil (disebut Mojo berduri). Melihat ulah Sunan Bejagung Lor yang aneh tersebut, Barat Ketigo tertawa karena air sedikit dimasukkan ke dalam buah Maja yang dibelah menjadi dua bagian. Ia menganggap mana mungkin air dalam buah Maja dapat menghilangkan rasa haus. Ternyata setelah air itu diminum,  air yang ada di dalam Maja tersebut masih utuh dan tidak habis-habis. Sehingga buah Maja tersebut disebut Mojo Agung. Kemudian dari peristiwa tutur mulut ke mulut berubah menjadi Beja Agung, kemudian menjadi Bejagung. Dijadikan nama desa Bejagung. Selain itu juga dipakai sebagai sebutan nama lain syekh Abdullah As’ari.
Akhirnya Barat Ketigo merasa kalah sakti dan menyatakan menjadi Santri Kanjeng Sunan Bejagung Lor. Sampai meninggal dunia ia tetap menjadi Santri Kanjeng Sunan Bejagung Lor. Setelah ia wafat dimakamkan di perbatasan Desa Bejagung-Prunggahan Kulon, sampai sekarang terkenal dengan sebutan Makam Panjang.
Makam Panjang
Makam atau petilasan di Kabupaten Tuban berjumlah ratusan, salah satunya yang luput dari khalayak adalah yang dipercaya sebagai Barat Ketigo/Patih Gajah Mada, Patih semasa Kerajaan Majapahit, terletak di Desa Bejagung Kecamatan Semanding, Tuban.
Dalam perjalananya sejarah Kabupaten Tuban merupakan daerah lintasan, maupun tempat singgah para penyebar keyakinan maupun punggawa kerajaan pada masanya, namun tak sedikit yang wafat di tlatah Tuban dengan meninggalkan bukti fisik berupa makam atau petilasan yang sampai saat ini masih diziarahi oleh sebagian masyarakat. Salah satunya adalah yang dipercaya sebagai makamnya Barat Ketigo Atau Patih Gajah Mada.
Menurut versi masyarakat sekitar yang dipercaya turun temurun sampai sekarang. Saat sosialnews.com mengunjungi makam tersebut, kondisinya nampak terawat dengan baik dan bersih. Menurut Mbah Siram (80 th), warga setempat mengatakan, ”Makam tersebut memang sengaja tidak ada bangunan penutup atau lebih dikenal dengan cungkup, karena memang tidak mau dibangun seperti itu, jadi makam tersebut terbuka seperti makam lain di sekitarnya.”
Makam yang terletak di bawah pohon randu alas besar, diameter dua rengkuhan tangan orang dewasa tersebut, persis berada di paling pinggir barat komplek makam umum Islam Desa Bejagung Kidul. Pada malam-malam tertentu terutama malam Jum’at Pahing, beberapa orang mengunjunginya untuk berdo’a. Makam yang terletak kurang lebih berjarak 3 km dari pusat kota dan 500 m, arah barat laut makam Sunan Bejagung Kidul, mudah dijangkau dari pusat Kota Tuban.
Konon cerita yang berkembang di masyarakat saat Patih Gajah Mada diutus Raja Mojopahit untuk mencari Ikan Bader Bang Sisik Kencono (ikan bader warna merah bersisikkan emas) untuk kepentingan sang Raja, alkisah sampailah di pantai Tuban dan sempat bertemu dengan Sunan Bejagung Kidul, dalam pertemuan tersebut sempat mengadu kesaktian namun sang Patih Gajah Mada merasa kalah sakti, sehingga beliau merasa terheran-heran, karena beliau yang merasa orang paling sakti di Nusantara dikalahkan oleh sosok sederhana. Hal itu disadari saat Patih Gajah Mada meminta minum, Sunan Bejagung Kidul mengambil buah kepoh (mangga) yang kering lalu diisi air dan diberikan kepada Patih Gajah Mada, lantas diminumnya. Air tak habis-habis, meskipun rasa haus Patih sudah hilang, semestinya habis sekali teguk karena tempatnya kecil.
Dalam satu sumpahnya beliau Patih Gajah Mada suatu saat akan kembali ke wilayah Tuban, dan diceritakan meninggal lalu dimakamkan di wilayah sekitaran makam Sunan Bejagung Kidul, makam panjang 3 m tersebutlah yang dipercaya Makam Barat Ketigo Atau Patih Gajah Mada.
Keberadaan makam tersebut kebenaran hakikinya tergantung masing-masing individu masyarakat, bahwa Barat Ketigo atau Gajah Mada adalah Patih dari Kerajaan Mojopahit menganut agama Hindu Budha, tapi makam yang ada tersebut selayaknya makam Islam yang membujur utara-selatan. Namun demikian dapat menjadi salah satu kunjungan ziarah, dalam melihat jejak para pendahulu dan mendokumentasikan dalam rangkaian sejarah Nusantara di wilayah Tuban, karena ketokohannya dalam menpersatukan Nusantara yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya .‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar